PERBEDAAN KAGUM, SUKA, SAYANG, dan CINTA
KAGUM hanya sebatas enak dipandang mata (ex: cantik, ganteng, dll)....
SUKA, ada saat sudah saling mengenal dan ingin lebih dekat (ex: teman)..........
SAYANG, hadir ketika sudah terjalin suatu hubungan (ex: pacaran, sahabatan).........
CINTA, ada karena jalinan hubungan yang sudah begitu lama, bahkan terselip keinginan ingin memiliki dan selalu ingin bersama (ex: keluarga, "pacaran + komitmen serius")..........
Rabu, 23 November 2011
Selasa, 22 November 2011
ANALISIS RASIO
ANALISIS RASIO
Analisa rasio menggambarkan suatu
hubungan atau pertimbngan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain.
Rasio ini akan lebih bermanfaat terutama apabila ratio tersebut dibandingkan
dengan angka ratio yang digunakan sebagai standar.
RASIO PENGUKUR
LIKUIDITAS
1.
Current Ratio
Ratio ini menunjukan tingkat
keamanan ( margin of safety ) atas kreditur jangka pendek; atau
menunjukan kemampuan perusahaan untuk membayar hutang-hutang tersebut:
Aktiva
Lancar
Current Ratio =
Hutang Lancar
2.
Acid Test Ratio
Disebut juga Quick Ratio,
yaitu menunjukan kemampuan perusahaan untuk memenuhi hutang-hutangnya tanpa
memperhitungkan persediaan.
Dengan ratio ini persediaan dianggap
membutuhkan waktu yang relatif lama untuk direalisasikan menjadi uang.
Aktiva
Lancar – Persediaan
Quick Ratio =
Hutang Lancar
Ratio ini dimulai lebih tajam
daripada current ratio karena lainnya memperhitungkan aktiva lancar yang sangat
likwid.Apabila current ratio tetapi quick rationya rendah, hal
ini menunjukan adanya investasi yang besar dalam persediaan.
3.
Perputaran Piutang
Atau Turn Over Receivable,
yaitu menunjukan posisi piutang serta taksiran umur / waktu
pengumpulanya.
Perputaran
Piutang
= Total Penjualan Kredit
Piutang Rata-rata
Semakin tinggi ratio turn over
menunjukan modal kerja yang tertanam dalam piutang rendah, sehingga keuntungan
bagi perusahaan.
Sedangkan untuk mengetahui berapa
hari piutang tersebut rata-rata tidak dapat ditagih (days of receivable
) adalah:
Days of Receivable = Piutang
Rata-rata x 360 atau
360
Penjualan
Kredit
Perputaran Piutang
Semakin tinggi ratio days of
receivable menunjukan kelemahan bagian penagihan piutang.
Keterangan:
1. Turn
over menunjukan bahwa penagihan piutang rata-rata sebanyak 3 kali dalam
satu tahun.2. Days of receivable
menunjukan bahwa rata-rata yang diperlukan untuk mengumpulkan piutang adalah
selama 120 hari.3. Turn over 3 atau 300%
berarti bahwa penjualan tahun tersebut sebesar 300% dari rata-rata
piutang.4. Ratio 300% juga menunjukan bahwa Rp. 3
penjualan kredit maka sebesar Rp. 1 belum dapat ditagih sampai akhir tahun.
4.
Perputaran Persediaan
Yaitu menunjukan berapa kali
terjadinya penggantian persediaan dalam satu tahun serta tersimpannya
persediaan tersebut di dalam gudang.Pada perusahaan manufaktur terdapat tiga
macam persediaan:
a.
RAW MATERIAL TURNOVER = Cost of raw
material used
( Barang mentah
) Average
raw material inventory
b.
GOODS IN PROCESS TURNOVER = Cost
of good manufacturred
(Barang dalam
proses)
Average work in process inventory
Cost of goods
sold
c. FINISHED GOODS
TURNOVER =
(Barang jadi )
Average finished goods inventory
RASIO
KAS:
Disamping kedua rasio yang sudah
dibahas di atas, terkadang perusahaan juga ingin mengukur seberapa besar uang
yang benar-benar siap untuk digunakan untuk membayar
utangnya. Artinya dalam hal ini perusahaan tidak perlu menunggu untuk menjual atau menagih utang lancer lainnya yaitu dengan menggunakan
rasio lancar.
Rasio kas merupakan alat yang
digunakan untuk mengukur seberapa besar uang kas yang tersedia
untuk membayar utang. Ketersediaan uang kas dapat ditunjukkan dari tersedianya dana kas atau yang setara dengan kas seperti rekening giro
atau tabungan di bank (yang dapat ditarik setiap saat).
Dapat dikatakan rasio ini menunjukkan kemampuan sesungguhnya
bagi perusahaan untuk membayar utang-utang jangka pendeknya.
RUMUS:
KAS + BANK
UTANG
LANCAR
RASIO
PERPUTARAN KAS:
Menurut James O. Gill, rasio ini
berfungsi untuk mengukur tingkat kecukupan modal kerja perusahaan yang
dibutuhkan untuk membayar tagihan dan membiayai penjualan. Artinya rasio ini
digunakan untuk mengukur tingkat ketersediaan kas untuk membayar tagihan
(utang) dan biaya-biaya yang berkaitan dengan penjualan.
Hasil perhitungan rasio perputaran
kas dapat diartikan sebagai berikut ;
1. apabila rasio perputaran kas
tinggi, ini berarti, ketidakmampuan perusahaan dalam
membayar tagihan.
2.sebaliknya apabila rasio
perputaran kas rendah, dapat diartikan kas yang tertanam
pada aktiva yang sulit dicairkan
dalam waktu singkat sehingga perusahaan harus
bekerja keras dengan kas yang lebih
sedikit.
RUMUS:
PENJUALAN BERSIH
MODAL
KERJA BERSIH
INVENTORY TO NET WORKING CAPITAL:
Rasio ini merupakan rasio yang
digunakan untuk mengukur atau membandingkan antara jumlah
persediaan yang ada dengan modal kerja perusahaan. Modal kerja tersebut terdiri dari pengurangan antara
aktiva lancer dengan utang lancar.
PERSEDIAAN
ASET
LANCAR – UTANG LANCAR
RASIO
PENGUKURAN SOLVABILITAS
1.
Rasio Modal dengan Total Asset
Menunjukan beberapa besarnya modal
sendiri yang tertanam dalam aktiva serta margin of protection atau
tingkat keamanan yang dimiliki oleh kreditur.
Rumus:
Modal Sendiri
Total Asset
2.
Rasio Modal dengan Aktiva TetapMenunjukan seberapa besar aktiva
tetap tersebut dibiayai dari modal sendiri. Semakin besar modal sendiri (Owner’s
equity ) lebih menguntungkan bagi perusahaan, karena sudah sewajarnya kalau
aktiva tetap dibiayai dari modal sendiri.
Rumus: Modal
Sendiri
Aktiva Tetap
3.
Rasio Aktiva Tetap dengan Hutang Jangka Panjang
Merupakan ratio untuk mengetahui
tentang tingkat keamanan yang dimiliki oleh kreditur jangka panjang atau untuk
mengukur seberapa besar hutang jangka panjang tersebut dijamin dengan aktiva
tetap yang dimilki perusahaan.
Rumus:
Aktiva Tetap
Hutang Jangka Panjang
RATIO
PENGUKUR RETABILITAS
1.
Ratio Operating Income dengan Operating Assets Menunjukan
tingkat efisiensi perusahaan, yaitu seberapa besar operating assets
tersebut dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan. Rumus:
Operting income
atau
Laba usaha
Operating
Asset
Aktiva usaha
Apabila ratio ini rendah menunjukan
adanya beberapa kemungkinan, yaitu:
·
Adanya over investment dalam aktiva yang digunakan dalam rangka memperoleh
penjualan.
·
Mencerminkan rendahnya volume penjualan jika dibandingkan dengan biaya yang
diperlukan.
·
Adanya inefisiensi pada perusahaan
·
Adanya kegiatan perusahaan yang menurun.
2.
Gross Margin Ratio
Rumus:
Laba kotor
Penjualan
3.
Operating Margin Ratio
Rumus:
Laba usaha
Penjualan
4. Rasio Rentabilitas
Modal Sendiri
Rumus:
Earning
after tax
Modal sendiri
HANYA SEBUAH ALASAN
“HANYA SEBUAH ALASAN”
Cinta
itu,,,,,,
Sebuah
alasan yang mampu buatku tersenyum bahagia….
Tanpa
ada paksaan…
Sebuah
alasan yang bisa buatku menangis,,,
Ketika
kecewa & marah…..
Sebuah
alasan yang akan slalu buatku memaafkan,,,
Tanpa
mengingat kesalahan itu lagi…..
&
sebuah alasan yang mampu
Buatku
mengubah kesalahan yang dulu kuperbuat,,,
Menjadi
sebentuk kesetiaan……
Cinta
itu berasal dari Ketulusan & Kemurnian Hati…..
Yang
dilahirkan tuk saling Memberi & Menerima…..
By:
^151010^
PERAN TEORI AKUNTANSI DALAM EKONOMI GLOBAL
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Memasuki
abad 21 ini, nasib suatu negara semakin ditentukan oleh kekuatan persaingan
global. Dalam dunia seperti ini, keputusan-keputusan operasi, investasi dan
pendanaan pembiayaan diwarnai oleh implikasi-implikasi internasional. Dengan
banyaknya keputusan yang berasal dari data-data akuntansi, pengetahuan mengenai
isu-isu akuntansi internasional sangat penting untuk memperolah interpretasi
dan pemahaman yang tepat dalam komunikasi bisnis internasional. Dengan kata lain,
saat ini akuntansi telah berkembang dalam tahap masa kedewasaannya menjadi
suatu aspek integral dari bisnis dan keuangan global.
Fungsi
akuntansi yang demikian penting dalam kehidupan bisnis dan keuangan,
menunjukkan bahwa akuntansi dalam masyarakat bisnis/internasional melakukan
fungsi jasa. Akuntansi harus tanggap terhadap kebutuhan masyarakat yang terus
berubah dan harus mencerminkan kondisi budaya, ekonomi, hukum, sosial dan
politik dari masyarakat tempat dia beroperasi. Dengan demikian akuntansi harus
berada tetap dalam kedudukannya yang berguna secara teknis dan sosial.
Sejarah
akuntansi dan akuntan, memperlihatkan perubahan yang terus menerus, suatu
proses yang tampaknya dilalui akuntansi secara konsisten. Pada suatu waktu,
akuntansi lebih mirip sistem pencatatan bagi jasa-jasa perbankan tertentu dan
bagi rencana pengumpulan pajak. Kemudian muncul pembukuan double entry untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhan usaha perdagangan. Industrialisasi dan pembagian
tenaga kerja memungkinkan dibuatnya analisa perilaku biaya dan adanya akuntansi
manajerial. Munculnya perusahaan modern merangsang pelaporan keuangan dan
auditing periodik. Beberapa waktu yang lalu, akuntansi memperlihatkan
kemampuannya untuk menarik perhatian publik melalui akuntansi dan pengukuran
sumber daya manusia, pelaporan dan audit atas tanggungjawab sosial berbagai
organisasi. Saat ini akuntansi beroperasi antara lain dalam lingkungan
perilaku, sektor publik dan Internasional. Akuntansi menyediakan informasi bagi
pasar modal-pasar modal besar, baik domestik maupun internasional. Akuntansi
telah meluas kedalam area konsultasi manajemen dan melibatkan lebih besar porsi
teknologi informasi dalam sistem dan prosedurnya. Dengan demikian akuntansi
jelas tanggap terhadap stimulus lingkungan.
Makalah
ini akan membahas seputar “Peran Teori Akuntansi Dalam Perkembangan Ekonomi
Global”.
B.
TUJUAN PENULISAN
Tujuan dari
penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk
mengetahui pengertian dan fungsi-fungsi dari teori maupun teori akuntansi.
2. Untuk
mengetahui apa itu globalisasi ekonomi.
3. Untuk
mengtahui apa saja tantangan dalam era globalisasi.
4. Untuk
memahami peran teori akuntansi dalam perkembangan ekonomi global.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
TEORI AKUNTANSI
Teori merupakan hasil dari
kristalisasi fenomena empiris, yang diambil dari berbagai riset, dan sampai
pada suatu kesimpulan yang bersifat universal, logis, konsisten, prediktif, dan
objektif. Teori akan berguna apabila rumusan teori tersebut dapat dijadikan
sebagai alat untuk memprediksi sesuatu yang mungkin terjadi di masa mendatang.
Teori akuntansi dapat dirumuskan
sebagai suatu susunan konsep, definisi, dan dalil yang menyajikan secara
sistematis gambaran fenomena akuntansi, serta menjelaskan hubungan antar
variabel dalam struktur akuntansi, dengan maksud untuk dapat memprediksi
fenomena yang muncul (fenomena sosial dan ekonomi).
Fungsi
teori akuntansi adalah :
1. Sebagai
pedoman bagi lembaga penyusun standar akuntansi,
2. Memberikan
kerangka acuan dalam menyelesaikan masalah akuntansi yang tidak ada standar
resminya,
3. Meningkatkan
pemahaman dan keyakinan pembaca terhadap informasi yang disajikan dalam laporan
keuangan,
4. Agar
laporan keuangan dapat diperbandingkan, dan
5. Memberikan
kerangka acuan dalam menilai prosedur dan praktek akuntansi.
Menurut Vernon Kam (1986), teori
adalah suatu sistem yang menyeluruh, dimana meliputi asumsi dasar, definisi,
tujuan, prinsip atau standar, dan prosedur atau metode. Sedangkan Kenneth S.
Most (1982) mendefinisikan teori sebagai suatu pernyataan yang sistematis
mengenai prinsip yang mendasari seperangkat fenomena. Teori bisa juga dianggap
sebagai kerangka atau susunan ide yang digunakan untuk menjelaskan fenomena
yang sedang terjadi dan memprediksi fenomena yang akan terjadi di masa
mendatang. Teori akuntansi adalah cabang akuntansi yang terdiri dari pernyataan
yang sistematis tentang prinsip dan metode yang membedakannya dengan praktek.
Oleh sebab itu, teori adalah penjelasan, tetapi tidak semua penjelasan dapat
dikategorikan sebagai teori. Teori memiliki tiga dimensi, yaitu :
1. Reductionism
Teori
dimulai dari asumsi-asumsi, dimana tidak langsung merujuk ke obyek yang
diobservasi, dan bukan merupakan pernyataan yang dapat diuji kebenarannya.
Tetapi teori merupakan bahan rujukan untuk mengamati fenomena.
2. Instrumentalism
Teori merupakan alat yang dapat digunakan untuk
menilai pernyataan tentang hasil dari suatu observasi. Di sini, teori berperan
untuk menjelaskan dan memprediksi.
3. Realism
Teori adalah sekumpulan proposisi atau dalil yang
merupakan pernyataan kebenaran atau ketidakbenaran tentang dunia nyata,
fenomena, atau suatu obyek.
Tujuan utama dari teori akuntansi adalah memberikan
seperangkat prinsip yang logis, saling terkait, yang membentuk kerangka umum,
dan dapat dipakai sebagai acuan untuk menilai dan mengembangkan praktek
akuntansi. Teori secara sederhana bisa juga diartikan sebagai suatu alasan
logis yang mendasari suatu pernyataan keyakinan. Apakah teori diterima atau
ditolak tergantung pada kemampuannya dalam memprediksi realitas, menjelaskan
praktek akuntansi, dan kemampuannya untuk menjadi dasar bagi pengembangan
praktik akuntansi di masa mendatang. Sepanjang suatu teori dapat mempertahankan
diri dari kritikan dan verifikasi, maka teori tersebut akan tetap berlaku atau
dipakai.
Di samping itu, ada suatu pandangan yang mengatakan bahwa
apapun yang dilakukan dalam dunia ilmiah tidak akan mampu memberikan pernyataan
kebenaran yang absolut, karena apa yang bisa dilakukan oleh peneliti atau
ilmuwan hanyalah merupakan percobaan demi percobaan, trial and error, dan
pengujian hipotesa. Suatu teori bisa benar pada kurun waktu tertentu dan belum
tentu benar pada kurun waktu yang lain. Hanya Tuhan yang memiliki dan
mengetahui kebenaran absolut, sedangkan peneliti hanya mampu mendekati pada
kebenaran yang hakiki itu. Pencarian teori dilalui melalui proses demi proses.
Suatu teori mungkin benar untuk keadaan tertentu, tetapi tidak untuk keadaan
yang lain. Menurut Kuhn (1970), teori ilmiah dan perkembangan ilmu memiliki
sifat revolusi, yang artinya terjadi proses yang terus menerus untuk mengubah
suatu teori yang tidak sesuai lagi dan menggantikannya dengan teori yang lain.
Menurutnya, siklus ilmu akan diawali dengan tidak adanya ide atau ilmu yang
diterima umum (pre-science), kemudian mulai munculnya berbagai pemikiran,
munculnya paradigma yang dominan, timbul anomali, dan terjadilah krisis ilmu.
Setelah krisis ilmu terjadi, maka siklus akan berulang kembali. Teori akuntansi
seharusnya dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan yang terjadi dalam
interaksi bisnis dan pengguna laporan keuangan.
Teori akuntansi berkaitan erat dengan penyusunan
kebijakan akuntansi. Cepat atau lambat, struktur akuntansi seharusnya mengikuti
evolusi perkembangan jaman. Perkembangan ini tentu saja akan mempengaruhi
konsep, asumsi dasar akuntansi, prinsip dasar akuntansi, dan akhirnya teknik
(metode) pencatatan akuntansi. Prinsip akuntansi yang berlaku sekarang adalah
merupakan hasil dari proses evolusi yang diperkirakan akan terus berlanjut.
Perubahan dapat terjadi pada tingkat metode pencatatan. Prinsip akuntansi akan
berubah mengikuti perubahan ekonomi, kondisi sosial, teknologi, ilmu
pengetahuan, dan permintaan para pemakai laporan keuangan yang menginginkan
informasi yang lebih bermanfaat. Teori akuntansi harus lahir dari proses
konstruksi teori dan sekaligus verifikasi teori. Jika suatu teori tidak dapat
bertahan pada proses verifikasi, maka teori yang lama harus diganti dengan
teori yang lebih baik.
Teori ilmiah memberikan kepastian dalam hal pengharapan
atau ramalan tertentu tentang fenomena. Jika fenomena yang diperkirakan
terjadi, maka teori tersebut dikatakan sesuai atau berlaku. Sebaliknya, jika
fenomena tidak terjadi, maka munculah anomali, yang berarti harus dicari teori
baru atau perlunya modifikasi atas teori yang lama. Tujuan dilakukannya
penyusunan teori baru dan modifikasi atas teori lama adalah sebagai upaya untuk
mengubah anomali menjadi kecocokan (anggapan fenomena yang terjadi sesuai
dengan kenyataannya). Setiap negara seharusnya memiliki dan merumuskan teori
akuntansinya sendiri yang disimpulkan dari kondisi dan fenomena ekonomi dan
sosial yang dimilikinya, bukan mengadopsi sepenuhnya dari susunan teori
akuntansi negara lain.
Menurut Ahmed Belkaoui, tidak ada teori akuntansi yang
lengkap pada setiap kurun waktu. Oleh karena itu, teori akuntansi harus juga
mencakup semua literatur akuntansi yang memberikan pendekatan yang berbeda-beda
satu sama lain. Tidak ada teori akuntansi yang lengkap, yang mencakup dan
memenuhi keinginan dari semua keadaan dan waktu dengan efektif. Untuk perumusan
teori akuntansi harus menggunakan literatur akuntansi dan disiplin ilmu lain
yang relevan. Teori akuntansi merupakan instrumen yang sangat penting dalam
menyusun dan memverifikasi prinsip akuntansi, yang digunakan dalam penyusunan
laporan keuangan untuk disajikan kepada para pemakainya.
B.
GLOBALISASI EKONOMI
Keterpurukan ekonomi Indonesia
akibat krisis ekonomi tahun 1997 mementalkan prediksi John Naisbitt bahwa
Indonesia akan menjadi salah satu macan dari Asia. Tahun 2000, tiga tahun
setelah krisis, di saat negara-negara lain yang juga terkena krisis seperti
Thailand, Korsel, Filipina dan Malaysia telah memperoleh perbaikan perekonomian
yang signifikan, perekonomian Indonesia (PDB) hanya bertumbuh 0,2%. Tanri Abeng
(1999) dalam Djalil (2000), menyatakan bahwa terdapat enam akar pokok
permasalahan yang menyebabkan lambatnya perbaikan perekonomian di Indonesia,
yaitu:
1. Ternyata
pertumbuhan pesat Indonesia sebelum krisis lebih banyak didorong karena
pertumbuhan investasi bukan karena efisiensi dan inovasi,
2. Mayoritas
nilai pasar perusahaan yang listing di BEJ adalah overvalued (90% nilai
perusahaan go public ditentukan oleh growth expectation, hanya 10% atas
kemampuan riil memperoleh laba; beda dengan negara maju, 30% growth
expectation, 70% kemampuan riil)
3. Struktur
finansial perusahaan tidak sehat (pinjaman lebih dari 100% dibandingkan
ekuitasnya, perusahaan sehat seharusnya dibawah 50% dari ekuitinya)
4. Adanya
mark-up dalam penyaluran kredit.
5. Konsentrasi
ekonomi tidak sehat (piramida ekonomi, atas: terdapat 200 perusahaan
konglomerat swasta dimiliki oleh 50 keluarga, tengah: hampir kosong.
6. Tidak
ada good governance (paling rendah menurut McKinsey 1999)
Di sisi lain, Indonesia dihadapkan
pada tantangan ekonomi abad ke-21 yaitu globalisasi ekonomi. Globalisasi
ekonomi merupakan suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan, di mana
negara-negara di seluruh dunia menjadi satu kekuatan pasar yang semakin
terintegrasi dengan tanpa rintangan batas teritorial negara.
C.
TANTANGAN DALAM ERA GLOBAL
Globalisasi
yang sudah pasti dihadapi oleh bangsa Indonesia menuntut adanya efisiensi dan
daya saing dalam dunia usaha. Dalam globalisasi yang menyangkut hubungan
intraregional dan internasional akan terjadi persaingan antarnegara. Perwujudan
nyata dari globalisasi ekonomi yang dihadapi bangsa Indonesia antara lain
terjadi dalam bentuk-bentuk berikut (Damanhuri, 2003):
§ Pembiayaan.
Perusahaan global mempunyai akses untuk memperoleh
pinjaman atau melakukan investasi (baik dalam bentuk portofolio ataupun
langsung) di semua negara di dunia. Sebagai contoh, PT Telkom dalam
memperbanyak satuan sambungan telepon, atau PT Jasa Marga dalam memperluas
jaringan jalan tol telah memanfaatkan sistem pembiayaan dengan pola BOT
(build-operate-transfer) bersama mitrausaha dari mancanegara.
§ Tenaga
kerja.
Perusahaan global akan mampu memanfaatkan tenaga
kerja dari seluruh dunia sesuai kelasnya, seperti penggunaan staf professional
diambil dari tenaga kerja yang telah memiliki pengalaman internasional dan\atau
buruh diperoleh dari negara berkembang. Dengan globalisasi maka human movement
akan semakin mudah dan bebas.
§ Jaringan
informasi.
Masyarakat suatu negara dengan mudah dan cepat
mendapatkan informasi dari negara-negara di dunia karena kemajuan teknologi,
antara lain melalui: TV, radio, media cetak dan lain-lain. Dengan jaringan
komunikasi yang semakin maju telah membantu meluasnya pasar ke berbagai belahan
dunia untuk barang yang sama. Sebagai contoh KFC, Hoka Hoka Bento, Mac Donald,
dll melanda pasar di mana-mana. Akibatnya selera masyarakat dunia (baik yang
berdomisili di kota maupun di desa) menuju pada selera global.
§ Perdagangan.
Hal
ini terwujud dalam bentuk penurunan dan penyeragaman tarif serta penghapusan
berbagai hambatan non tarif. Dengan demikian kegiatan perdagangan dan
persaingan menjadi semakin ketat dan fair. Bahkan, transaksi menjadi semakin
cepat karena "less papers/documents" dalam perdagangan, tetapi dapat
mempergunakan jaringan teknologi telekomunikasi yang semakin canggih.
Dengan kegiatan bisnis korporasi
(bisnis corporate) di atas dapat dikatakan bahwa globalisasi mengarah pada
meningkatnya ketergantungan ekonomi antarnegara melalui peningkatan volume dan
keragaman transaksi antarnegara (cross-border transactions) dalam bentuk barang
dan jasa, aliran dana internasional (international capital flows), pergerakan
tenaga kerja (human movement) dan penyebaran teknologi informasi yang cepat.
Kekuatan ekonomi global menyebabkan bisnis korporasi perlu melakukan tinjauan
ulang terhadap struktur dan strategi usaha serta melandaskan strategi
manajemennya dengan basis entrepreneurship, cost efficiency dan competitive
advantages. Masalah daya saing dalam pasar dunia yang semakin terbuka merupakan
isu kunci dan tantangan yang tidak ringan. Tanpa dibekali kemampuan dan
keunggulan saing yang tinggi niscaya produk suatu negara, termasuk produk
Indonesia, tidak akan mampu menembus pasar internasional. Bahkan masuknya
produk impor dapat mengancam posisi pasar domestik. Dengan kata lain, dalam
pasar yang bersaing, keunggulan kompetitif (competitive advantage) merupakan
faktor yang sangat penting dalam meningkatkan kinerja perusahaan. Banyak
perusahaan besar Indonesia terhempas karena krisis, karena persaingan global,
menunjukkan bahwa ternyata mereka tidak efisien.
Menyadari hal tersebut beberapa
perusahaan besar melakukan antisipasi dengan mencoba untuk tidak menjadi bubble
company tetapi menjadi sustainable company (Hasan, 2000). Good Corporate
Governance, tata kelola perusahaan yang baik, diyakini mampu merealisasikan
keinginan tersebut, karena tidak hanya bertujuan pada profit oriented tapi juga
fokus pada kebutuhan seluruh stakeholder-nya. Untuk itu transparansi,
akuntabel, fairness, dan responsibilitas terutama sangat perlu dipahami dan
direalisasikan organisasi baik organisasi swasta maupun organisasi sektor
publik. Akuntansi, sebagai information provider, perlu menyadari bahwa high
quality information adalah dasar dari good corporate governance. Oleh karena
itu para pelaku akuntansi perlu menyadari tanggung jawab mereka untuk
menyediakan informasi maupun laporan keuangan yang handal dan akurat.
D.
PERAN TEORI AKUNTANSI DALAM EKONOMI
GLOBAL
Dalam era globalisasi, dunia usaha
dan masyarakat telah menjadi semakin kompleks sehingga menuntut adanya
perkembangan berbagai disiplin ilmu termasuk Akuntansi. Akuntansi memegang
peranan penting dalam ekonomi dan sosial karena setiap pengambilan keputusan
yang bersifat keuangan harus berdasarkan informasi akuntansi. Keadaan ini
menjadikan akuntansi sebagai suatu profesi yang sangat dibutuhkan keberadaanya
dalam lingkungan organisasi bisnis.
Perkembangan dunia usaha semakin
lama semakin cepat dan sangat bervariasi. Bidang-bidang yang dahulu tidak di
bayangkan sebagai sektor usaha sekarang menjadi sektor besar. Perkembangan
profesi akuntansi terasa lebih meninggi setelah tahun 1985, Bebarengan dengan
BEJ. Bunga Bank yang tinggi mendorong orang mencari alternatif untuk memenuhi
kebutuhan permodalannya, persaingan antar perusahaan semakin meningkat dengan
dibarengi berbagai permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan di Indonesia.
Dalam menghadapi itu semua para pengelola perusahaan sangat membutuhkan
informasi akuntansi dalam rangka pengambilan keputusan.
Akuntansi mengalami perkembangan
yang sangat pesat seiring dengan tumbuh dan berkembangnya bisnis surat-surat
berharga khususnya bisnis saham di pasar modal. Masyarakat Amerika sudah
mengenal bisnis tersebut sejak tahun 1900 (Belkaoui, 2007). Dalam bertransaksi,
baik para investor maupun calon investor telah menggunakan informasi keuangan
perusahaan sebagai salah satu pedoman dalam membuat prediksi-prediksi dan untuk
mengambil keputusan bisnis, yaitu investasi dalam surat-surat berharga,
khususnya dalam saham. Perkembangan positif yang terjadi terhadap bisnis saham
di pasar modal Amerika juga menunjukkan bahwa kebutuhan perusahaan akan modal
juga meningkat seirama dengan perkembangan pasar. Perkembangan ini sekaligus
menunjukkan bahwa pasar modal memegang peranan penting dalam perekonomian suatu
negara khususnya Amerika pada era tersebut. Di samping itu, juga berarti bahwa
kebutuhan dan peran informasi akuntansi menjadi semakin penting.
Menurut Choi dan Muller (1998; 1) Bahwa ada tiga kekuatan
utama yang mendorong bidang akuntansi internasional kedalam dimensi
internasional yang terus tumbuh, yaitu (1) faktor lingkungan, (2)
Internasionalisasi dari disiplin akuntansi, dan (3) Internasionalisasi dari
profesi akuntansi. Ketiga faktor tersebut dalam perjalanan/perkembangan akuntansi
sangat berperan dan menentukan arah dari teori akuntansi yang selama
bertahun-tahun dan dekade banyak para ahli mencurahkan tenaga dan pikirannya
untuk mengembangkan teori akuntansi dan ternyata mengalami kegagalan dan hal
tersebut menyebabkan terjadinya evolusi dari ”theorizing” ke “Conceptualizing”.
Sejumlah faktor lingkungan yang
diyakini memiliki pengaruh langsung terhadap pengembangan akuntansi, antara
lain :
1. Sistem Hukum
Kodifikasi
standar-standar dan prosedur-prosedur akuntansi kelihatannya alami dan cocok
dalam negara-negara yang menganut code law. Sebaliknya, pembentukan kebijakan
akuntansi yang non legalistis oleh organisasi-organisasi professional yang
berkecimpung dalam sektor swasta lebih sesuai dengan sistem yang berlaku di
negara-negara hukum umum (common law). Dalam hukum perang atau situasi darurat
nasonal lainnya, semua aspek fungsi akuntansi mungkin diatur oleh sejumlah
pengadilan atau badan pemerintah pusat. Contohnya adalah dalam masa Nazi
Jerman, ketika persiapan-persiapan perang yang intensif dan kemudian pada saat
PD II memerlukan sistem akuntansi nasional yang sangat seragam untuk mengontrol
semua aktivitas ekonomi nasional secara total.
2. Sistem Politik
Sistem
politik yang ada pada suatu negara pun ikut mewarnai akuntansi, karena sistem
politik tersebut “mengimpor” dan “mengekspor” standar-standar dan prktik-prakti
akuntansi. Sebagai contoh, akuntansi Inggris yang ada semasa pergantian Abad
20, “diekspor” ke negara-negara persemakmuran. Belanda melakukan hal yang sama
ke filipina dan Indonesia, Perancis ke negara-negara jajahannya di Asia da
Afrika. Jerman menggunakan simpati politik untuk mempengaruhi, antara lain,
akuntansi di Jepang dan Swedia.
3. Sifat Kepemilikan Bisnis
Kepemilikan
publik yang besar atas saham-saham perusahaan menyiratkan prinsip-prinsip
pelaporan dan pengungkapan akuntansi keuangan yang berbeda dengan
perusahaan-perusahaan yang kepemilikannya didominasi oleh keluarga atau bank.
Misalnya, kepemilikan publik yang sangat tinggi atas saham-saham korporasi di AS
telah menghasilkan apa yang dinamakan Sunshine accounting standards of wide
open disclosure, sedangkan ketidakhadiran partisipasi publik dalam kepemilikan
saham perusahaan di Perancis telah membatasi komunikasi keuangan yang efektif
hanya ke saluran komunikasi ”insider” saja. Kepemilikan Bank yang tinggi di
Jerman juga menghasilkan respon akuntansi yang berbeda. Di AS, AICPA membuat
rekomendasi khusus bagi standar dan praktik akuntansi keuangan tertentu yang
digunakan oleh perusahaan-perusahaan non publik yang lebih kecil.
4. Perbedaan Besaran dan Kompleksitas
Perusahaan-Perusahaan Bisnis
Dikotomi
yang terjadi antara perusahaan besar dan kecil terus berlanjut, mulai dari
masalah asuransi, hingga keseluruh hirarki perusahaan induk-anak, termasuk
masalah kompleksitas. Perusahaan konglomerasi besar yang beroperasi dalam lini
bisnis yang sangat beragam membutuhkan teknik-teknik pelaporan keuangan yang
berbeda dengan perusahaan kecil yang menghasilkan produk tunggal.
Perusahaan-perusahaan multinasional juga membuthkan sistem akuntansi yang
berbeda dengan sistem akuntansi perusahaan-perusahaan domestik.
5. Iklim Sosial
Iklim
sosial turut memberikan sumbangan dalam pengembangan akuntansi diberbagai
belahan dunia. Di Perancis, mengarah pada pelaporan tanggungjawab sosial,
sebaliknya di Swiss masih sangat konservatif sehingga perusahaan-perusahaan
besar swiss melaporkan kondisi keuangannya yang relatif ringkas. Orang Italia
masih sangat berorientasi pada pajak, bahkan di beberapa negara Amerika bagian
Timur dan Selatan, akuntansi sama dengan pembukuan dan dianggap tidak cocok
secara sosial.
6. Tingkat Kompetensi Manajemen Bisnis Dan
Komunitas Keuangan
Kompetensi
atau kemampuan manajemen bisnis dan pengguna dari output akuntansi akan sangat
menentukan perkembangan akuntansi. Karena secanggih dan sehebat apapun output
akuntansi, jika manajemen bisnis dan para pengguna tidak dapat membaca,
mengartikan, dan memahaminya hal tersebut tidak akan ada gunanya.
7. Tingkat Campur Tangan Bisnis
Legislatif
Regulasi
mengenai perpajakan mungkin memerlukan prinsip-prinsip akuntansi tertentu.
Seperti di Swedia, dimana kelonggaran pajak tertentu harus dibukukan secara
akuntansi sebelum bisa diklaim bagi tujuan pajak; ini juga merupakan situasi
bagi penilaian persediaan metode LIFO di AS. Hukum-hukum perlindungan sosial
yang beragam juga mempengaruhi standar-standar akuntansi. Contohnya adalah
kewajiban membayar pesangon dio beberapa negara Amerika Selatan.
8. Ada Legislasi Akuntansi tertentu
Dalam
beberapa kasus, terdapat peraturan legislative khusus untuk aturan-aturan dan
teknik-teknik akuntansi tertentu. Di AS, SEC menentukan standar-standar
pengungkapan dan akuntansi bagi perusahaan-perusahaan besar, dengan mengacu
pada FASB.
9. Kecepatan Inovasi Bisnis
Semula,
kegiatan merger dan akuisisi tidak diperhitungkan secara akuntansi, namun
karena penggabungan bisnis yang begitu popular di erofa memaksa akuntansi turut
berkembang untuk memenuhi kebutuhan dari mereka yang berkepentingan.
10. Tahap pembangunan Ekonomi
Negara
yang masih mengandalkan ekonomi pertanian membuthkan prinsip-prinsip akuntansi
yang berbeda dengan negara industri maju. Di negara pertanian, tingkat
ketergantungan pada kredit dan kontrak bisnis jangka panjang mungkin masih
kecil. Sehingga akuntansi akrual yang canggih tidak berguna dan yang dibutuhkan
adalah akuntansi kas sederhana.
11. Pola Pertumbuhan Ekonomi
Kondisi
perekonomian yang stabil mendorong peningkatan persaingan memperebutkan
pasar-pasar yang ada sehingga memerlukan suatu pola akuntansi yang stabil dan
akan jauh berbeda pada negara yang kondisinya sedang mengalami perang
berkepanjangan.
12. Status Pendidikan dan Organisasi
Profesional
Karena
ketiadaan profesionalisme akuntansi yang terorganisir dan sumber otoritas
akuntansi local suatu negara, standar-standar dari area lain atau negara lain
mungkin digunakan untuk mengisi kekosongan tersebut. Adaptasi faktor-faktor
akuntansi dari Inggris merupakan pengaruh lingkungan yang signifikan dalam
akuntansi dunia sampai akhir PD II. Sejak saat itu, proses adaptasi internasional
beralih ke sumber-sumber dari AS. Pengembangan akuntansi, baik yang berasal
dari negara itu sendiri atau yang diadaptasi dari negara-negara lain, tidak
akan sukses kecuali jika kondisi-kondisi lingkungan seperti yang terdapat dalam
daftar diatas dipertimbangkan secara penuh.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Perkembangan yang cepat dalam
transportasi dan komunikasi membuat dunia menjadi tanpa batas hingga mewujudkan
apa yang dinamakan “global village”. Ditambah dengan ditandai pertumbuhan
perdagangan internasional dan pertukaran bisnis lainya diantara berbagai negara
mempengaruhi kehidupan kita. Umumnya, perkembangan ini membawa dampak berbagai
kebiasaan, dan praktek yang sama. Dalam kegiatan bisnis khusus telah mendukung
keinginan untuk meng-harmonisasikan standar akuntansi diantara berbagai
negara tersebut. Harmonization menunjukkan derajad koordinasi atau
kesamaan diantara berbagai set variasi standar akuntansi nasional dan metode
serta format pelaporan keuangan. (Meek et. al dalam Wolk &
Tearney, 1992; 577).
Salah satu faktor yang mendasari perlunya meng-harmonisasikan
standar akuntansi internasional adalah adanya peningkatan kepentingan dari
berbagai perusahaan multinational. Kesamaan secara umum dalam satandar
akuntansi dan prosedur akuntansi akan memfasilitasi/memudahkan koordinasi
diantara perusahaan multinational. Sebagai contoh, laporan keuangan konsolidasi
akan mudah disajikan jika perangkat akuntansi yang tersedia applicable untuk
perusahaan multinational tersebut. Konsekuensi dari MNCs tersebut maka profesi
akuntan publik pun ikut mendunia, banyak firma-firma akuntan publik berpraktek
diseluruh dunia. Akhirnya pembiayaan antar negara meningkat ditandai dengan
bergairahnya pasar-pasar modal antar berbagai negara.
Langganan:
Postingan (Atom)