DISIPLIN
KEPEMIMPINAN
Faktor disiplin dalam kepemimpinan merupakan sesuatu yang sangat
penting. Persoalan utama yang muncul adalah persepsi yang keliru tentang
disiplin itu, baik dari segi pemimpin maupun dari segi bawahan. Pemimpin bisa
terjebak untuk menggunakan disiplin guna mempertahankan "status quo"
dalam kepemimpinannya atau untuk mengekspresikan sikapnya terhadap bawahan, di
mana disiplin seolah-olah diartikan sebagai hukuman semata-mata. Dari pihak
bawahan, disiplin telah terlihat sebagai "hukuman yang mengancam
nasibnya", atau usaha atasan untuk menghalang-halangi kemajuan dirinya.
Dalam kepemimpinan, disiplin harus diartikan sebagai
"mendidik untuk perbaikan dan menjadi lebih baik". Disiplin di sini
tidak diartikan sebagai hukuman untuk orang yang bersalah, tetapi merupakan
didikan atau tuntunan untuk bermotivasi, bersikap, dan berkinerja baik secara
konsisten. Disiplin tidak hanya diterapkan pada saat seseorang terbukti
bersalah, tetapi dimulai dalam kondisi kerja normal untuk meningkatkan komitmen
dan kinerja. Seseorang yang terbukti bersalah dan disiplin hanyalah merupakan
salah satu aspek saja dari disiplin.
Fungsi dari disiplin
Fungsi khusus dari disiplin dapat dijabarkan dalam tiga kisi
penting berikut.
1. Meningkatkan
kualitas karakter.
Kualitas karakter akan terlihat pada komitmen kepada Tuhan, organisasi, diri, orang lain, dan kerja. Puncak komitmen akan terlihat pada integritas diri yang tinggi dan tangguh.
Kualitas karakter akan terlihat pada komitmen kepada Tuhan, organisasi, diri, orang lain, dan kerja. Puncak komitmen akan terlihat pada integritas diri yang tinggi dan tangguh.
2. Mendukung
proses pengejawantahan kualitas karakter, sikap, dan kerja.
Di sini, kualitas sikap (komitmen dan integritas) ditunjang, didukung, dikembangkan, dan diwujudkan dalam kenyataan. Komitmen dan integritas akan terlihat dalam kinerja yang konsisten.
Di sini, kualitas sikap (komitmen dan integritas) ditunjang, didukung, dikembangkan, dan diwujudkan dalam kenyataan. Komitmen dan integritas akan terlihat dalam kinerja yang konsisten.
3. Memproduksi
kualitas karakter dalam hidup yang ditandai oleh adanya karakter kuat dari
setiap orang, termasuk pemimpin dan bawahan.
Pemimpin terbukti berdisiplin tinggi dalam sikap hidup dan kerja, dan hal yang akan mempengaruhi para bawahan untuk berdisiplin tinggi yang dijadikan model oleh bawahannya.
Pemimpin terbukti berdisiplin tinggi dalam sikap hidup dan kerja, dan hal yang akan mempengaruhi para bawahan untuk berdisiplin tinggi yang dijadikan model oleh bawahannya.
Proses disiplin
Dalam menjalankan disiplin, proses disiplin dapat dilukiskan dari
lima sisi penting berikut.
1. Disiplin
bagaikan mercusuar yang membuat nakhoda tetap siaga akan kondisi yang dihadapi
dan tetap waspada menghadapi kenyataan hidup dan kerja.
2. Disiplin
bagaikan air sungai yang terus mengalir dari gunung ke lembah dan terus membawa
kesegaran dan membersihkan bagian sungai yang keruh.
3. Disiplin
bagaikan dinamo yang menyimpan kekuatan/daya untuk menghidupkan mesin. Apabila
kunci kontak dibuka, daya pun mengalir dan menghidupkan mesin yang mencipta
daya dorong yang lebih besar lagi dan yang berjalan secara konsisten.
4. Disiplin
bagaikan gas, rem, dan kemudi pada mobil yang mendorong, menghentikan, dan
memberikan arah yang pasti.
5. Disiplin
bagaikan wasit dan hakim yang mengarahkan pertandingan dan menetapkan skor
benar-salah, untung-kalah.
Cara pelaksanaan disiplin
Disiplin harus ditegakkan dan dijalankan dalam kepemimpinan
apabila suatu organisasi berkehendak untuk tetap tegak dan lebih maju. Pemimpin
yang disiplin akan mempengaruhi bawahannya untuk berdisiplin. Sebab disiplin
merupakan tanda dan penggerak hidup suatu organisasi. Dalam upaya menjalankan
disiplin, cara-cara di bawah ini dapat ditempuh.
1. Disiplin
dalam kondisi normal.
Dalam kondisi normal, disiplin harus ditegakkan secara terus-menerus, menjelaskan, dan mengomunikasikan policy/ketentuan hidup/kerja organisasi yang dilakukan secara kreatif. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan nasihat umum, briefing, petunjuk khusus, serta nasihat/dorongan "on the spot" (langsung di tempat kerja).
Dalam kondisi normal, disiplin harus ditegakkan secara terus-menerus, menjelaskan, dan mengomunikasikan policy/ketentuan hidup/kerja organisasi yang dilakukan secara kreatif. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan nasihat umum, briefing, petunjuk khusus, serta nasihat/dorongan "on the spot" (langsung di tempat kerja).
2. Disiplin
dalam kondisi khusus.
Dalam kondisi khusus di mana terdapat kesalahan/kekeliruan yang dilakukan dengan sengaja atau pun tidak, hal-hal berikut harus diperhatikan oleh pemimpin.
Dalam kondisi khusus di mana terdapat kesalahan/kekeliruan yang dilakukan dengan sengaja atau pun tidak, hal-hal berikut harus diperhatikan oleh pemimpin.
a.
Bobot dari kesalahan yang diperbuat oleh seseorang bawahan
dimaksud.
b.
Unsur-unsur administrasi, hukum, sosial, ekonomi, politik,
rohani/moral/etis yang terdapat dalam kekeliruan/kesalahan tersebut.
c.
Kualitas keputusan yang dilakukan dan efeknya terhadap organisasi,
pemimpin, dan bawahan dimaksud.
d.
Disiplin dapat diwujudkan dengan cara-cara berikut.
§ Teguran
Teguran (reprimend) dapat dilakukan secara bertahap, mulai dari teguran lisan sampai kepada teguran tertulis yang dicatat secara teratur. Teguran dapat diberikan bagi kekeliruan yang dinilai ringan.
Teguran (reprimend) dapat dilakukan secara bertahap, mulai dari teguran lisan sampai kepada teguran tertulis yang dicatat secara teratur. Teguran dapat diberikan bagi kekeliruan yang dinilai ringan.
§ Peringatan
atau ancaman keras
Peringatan atau ancaman keras perlu diberikan bagi pelanggaran yang dinilai berat/besar oleh pemimpin. Peringatan atau ancaman keras harus selalu diberikan dalam bentuk tertulis.
Peringatan atau ancaman keras perlu diberikan bagi pelanggaran yang dinilai berat/besar oleh pemimpin. Peringatan atau ancaman keras harus selalu diberikan dalam bentuk tertulis.
§ Pemutusan
hubungan kerja
Pemutusan hubungan kerja dapat diberikan atas penilaian pemimpin terhadap pelanggaran berat seseorang bawahan yang sangat merugikan dan tidak dapat diperbaiki lagi. Di sini, pemutusan hubungan kerja diberikan demi kebaikan organisasi, pemimpin, maupun bawahan.
Pemutusan hubungan kerja dapat diberikan atas penilaian pemimpin terhadap pelanggaran berat seseorang bawahan yang sangat merugikan dan tidak dapat diperbaiki lagi. Di sini, pemutusan hubungan kerja diberikan demi kebaikan organisasi, pemimpin, maupun bawahan.
Disiplin yang baik dan benar dalam kepemimpinan akan selalu
membangun serta membawa kemajuan. Pemimpin yang berhikmat akan selalu
menerapkan disiplin dalam hidup dan kerja sehingga membawa dampak positif bagi
kemajuan hidup dan kerja dalam organisasi.
Pada akhirnya, perlulah disadari bahwa disiplin dalam kehidupan
berorganisasi, bekerja, berkelompok, dan individu merupakan adanya gambaran
tekad, kemauan, serta komitmen yang sedang diejawentahkan. Hal ini menentukan
kohesi tinggi dalam mekanisme sosial yang memastikan hubungan dan kerja sama
yang erat, yang secara pasti mengarah kepada keberhasilan/kesuksesan hidup dan
kerja kelompok maupun individu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar