Selasa, 22 November 2011

PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk.


A.    LATAR BELAKANG

PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. (“Sampoerna”) merupakan salah satu produsen rokok terkemuka di Indonesia. Kami memproduksi sejumlah merek rokok kretek yang dikenal luas, seperti Sampoerna Kretek (sebelumnya disebut Sampoerna A Hijau), A Mild, serta “Raja Kretek” yang legendaris Dji Sam Soe. Kami adalah afiliasi dari PT Philip Morris Indonesia dan bagian dari Philip Morris International, produsen rokok terkemuka di dunia. Misi kami adalah menawarkan pengalaman merokok terbaik kepada perokok dewasa di Indonesia. Hal ini kami lakukan dengan senantiasa mencari tahu keinginan konsumen, dan memberikan produk yang dapat memenuhi harapan mereka. Kami bangga atas reputasi yang kami raih dalam hal kualitas, inovasi dan keunggulan.
Pada tahun 2009, Sampoerna memiliki pangsa pasar sebesar 29,1% di pasar rokok Indonesia, berdasarkan hasil AC Nielsen Retail Audit-Indonesia Expanded. Pada akhir 2009, jumlah karyawan Sampoerna dan anak perusahaan mencapai sekitar 28.300 orang. Sampoerna mengoperasikan enam pabrik rokok di Indonesia dan Sampoerna menjual dan mendistribusikan rokok melalui 59 kantor penjualan di seluruh Indonesia.
Visi PT HM Sampoerna Tbk. ("Sampoerna") terkandung dalam “Falsafah Tiga Tangan”. Falsafah tersebut mengambil gambaran mengenai lingkungan usaha dan peranan Sampoerna di dalamnya. Masing-masing dari ketiga ”Tangan”, yang mewakili perokok dewasa, karyawan dan mitra bisnis, serta masyarakat luas, merupakan pihak yang harus dirangkul oleh Sampoerna untuk meraih visi menjadi perusahaan paling terkemuka di Indonesia.
Kami juga tetap teguh menjalankan program tata kelola perusahaan yang kuat dan ditujukan untuk melindungi seluruh pemangku kepentingan Sampoerna dengan baik dan efektif. Komitmen tersebut kami wujudkan dengan menumbuhkan dan menjaga standar kepatuhan, perilaku bertanggung jawab dan integritas yang tertinggi di seluruh lapisan organisasi Sampoerna.
Sampoerna menetapkan standar kepatuhan dan integritas yang sangat tinggi dalam menjalankan usaha. Aturan berperilaku (code of conduct) yang diterapkan pada seluruh afiliasi PMI, termasuk Sampoerna, dikomunikasikan kepada karyawan Sampoerna pada seluruh tingkatan organisasi. Program pelatihan diadakan secara berkala dan partisipasi karyawan dimonitor dengan ketat.

B.     SUSUNAN DIREKSI & KOMISARIS

Dewan Komisaris
Matteo Lorenzo Pellegrini 
Presiden Komisaris
Matteo Lorenzo Pellegrini bergabung dengan PMI pada tahun 1991. Beliau menjadi Business Development Manager di Italia, sebelum menjadi Marketing Director pada tahun 1995.  Beliau kemudian ditunjuk sebagai Managing Director untuk empat afiliasi, berpindah–pindah antara Portugal, Spanyol, Prancis, dan akhirnya kembali ke Italia pada tahun 2001. Lalu beliau pindah ke Hong Kong pada tahun 2003 untuk menangani bisnis PMI di kawasan Asia Pasifik, sebelum menangani Asia Barat sejak tahun 2005. Sejak tahun 2007, wilayah tanggung jawab Matteo Lorenzo Pellegrini meliputi Asia Timur dan Barat dengan menjabat sebagai President, Asia. Selain memegang gelar sarjana business administration dari Universitas Bocconi di Milan, beliau juga menyandang gelar Master dalam communication dan marketing.

Douglas Walter Werth
Wakil Presiden Komisaris
Douglas Werth bergabung dengan PMI sebagai Controller berbasis di Hong Kong pada tahun 2003. Beliau bertanggung jawab dalam bidang pelaporan dan perencanaan keuangan untuk kawasan Asia Pasifik dan dalam mengembangkan kemampuan keuangan di dalam organisasi. Sebelum bergabung dengan PMI, beliau telah bekerja di Philip Morris USA dan menjabat berbagai posisi di bidang accounting. Pada tahun 1995, beliau menjadi Director Financial Planning and Analysis, kemudian menjadi Director Financial System Implementation pada tahun 1997, dan Assistant Controller, Operations pada tahun 2001. Beliau kemudian dipromosikan sebagai Controller pada tahun 2002 dan bertanggung jawab mendukung kebijakan dan mengawasi keuangan untuk marketing dan sales di Philip Morris USA. Beliau memulai karirnya di Pittston Coal Group di Virginia, AS, dan menduduki berbagai posisi di bidang cost accounting hingga dipromosikan sebagai Assistant to the Controller. Douglas Werth meraih gelar sarjana di bidang commerce, business administration dan accounting dari Washington and Lee University di Lexington, Virginia, Amerika Serikat.

Eunice Carol Hamilton
Komisaris
Eunice Carol Hamilton bergabung dengan PMI pada tahun 1990 sebagai Recruitment Executive. Lima tahun kemudian, beliau ditunjuk menjadi Director Management & Organization Development, dengan basis di New York. Sebelum pindah ke Hong Kong pada tahun 2001 untuk menjabat Vice President Human Resources Asia Pacific Region, beliau menduduki jabatan Director Human Resources untuk Republik Ceko & Slowakia. Beliau juga menjabat sebagai Vice President Centers of Expertise: Source & Select; Develop & Counsel; and Organization Design, berbasis di Lausanne, Swiss. Eunice Hamilton meraih gelar Master of Arts dari University of Glasgow, Skotlandia pada tahun 1978, kemudian mengambil diploma pascasarjana dalam bidang Human Resources dari London School of Economics pada tahun 1979. Pada tahun 1985, beliau juga meraih diploma Sastra Perancis dari University of Geneva, Swiss.

Phang Cheow Hock
Komisaris Independen
Phang Cheow Hock bekerja di Sampoerna selama 29 tahun. Sebelumnya, beliau pernah mengabdikan diri lebih dari 20 tahun di Singapore Police Force sebagai seorang senior officer. Beliau juga pernah menjabat sebagai Shareholders’ Representative and Assistant to the CEO tahun 1978 – 1991, dan menjadi Chief Operating Officer tahun 1990 – 1999, dan bertanggung jawab terhadap keseluruhan operasional dan manajemen. Phang Cheow Hock diangkat sebagai Komisaris pada tahun 2000 setelah pensiun dari Perseroan.

Ekadharmajanto Kasih
Komisaris Independen
Sebelum bergabung dengan Sampoerna, Ekadharmajanto Kasih telah berpengalaman selama 25 tahun di bidang financial control pada sector manufacturing. Beliau bergabung dengan Sampoerna pada tahun 1990 dan memegang posisi Financial Controller hingga diangkat sebagai Chief Financial Officer pada tahun 1991 dan anggota Direksi pada tahun 1992, lalu menjadi anggota Dewan Komisaris pada tahun 2001 setelah pensiun dari Perseroan. Ekadharmajanto Kasih meraih gelar sarjana di bidang Ekonomi dari Universitas Indonesia pada tahun 1975. Beliau juga mengabdikan diri sebagai dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Niken Rachmad
Komisaris
(efektif tanggal 1 Januari 2011)
Niken Rachmad bergabung di Sampoerna pada tahun 1998 sebagai Head of Corporate Communications dan menjabat sebagai Director Communications pada tahun 2006. Pada tahun 2009, beliau diangkat sebagai Advisor Corporate Affairs, lalu ditetapkan sebagai anggota Dewan Komisaris pada RUPS Tahunan Perseroan pada 18 Juni 2010. Sebelum bergabung dengan Sampoerna, Niken Rachmad telah menjalani karier yang panjang dan mengesankan dalam bidang jurnalisme dan hubungan masyarakat di Indonesia dan AS, termasuk penugasannya di Washington DC, ketika beliau bekerja di Voice of America antara tahun 1982 dan 1986. Niken Rachmad merintis divisi Hubungan Masyarakat pada Ogilvy & Mather Indonesia dan memperkenalkan konsep Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) kepada sejumlah klien utama. Niken Rachmad adalah lulusan Universitas Gadjah Mada dengan gelar BSc pada tahun 1972.  

Direksi
John Gledhill
Presiden Direktur
John Gledhill bergabung dengan PMI pada tahun 1983. Beliau mengawali karirnya di PMI dalam bidang pemasaran dan manajemen di kawasan Timur Tengah. Beliau kemudian pindah ke Eropa untuk memenuhi kebutuhan akan peran senior yang terus meningkat dalam bidang penjualan, pemasaran dan manajemen di kantor PMI di Slowakia, Polandia, dan di Pusat Operasional PMI di Lausanne, Swiss. Pada tahun 1999 beliau diangkat sebagai Managing Director Philip Morris Malaysia, kemudian memimpin operasi PMI di Korea dan Australia, masing-masing pada tahun 2002 dan 2004. Pada tahun 2009, beliau diangkat menjadi Presiden Direktur Sampoerna. John Gledhill memiliki gelar dalam bidang Bisnis dan Pemasaran, dan lulus dari International Executive Programme INSEAD di Perancis pada tahun 1999.

Paul Janelle
Direktur
Paul Janelle mulai bekerja di PMI sebagai Finance Trainee pada tahun 1991 di Lausanne, Swiss. Pada 1997, beliau bergabung dengan organisasi keuangan Philip Morris CR a.s., berkantor di Praha, Republik Ceko, hingga menduduki jabatan Controller pada tahun 2000. Pada tahun 2001, beliau dipromosikan menjadi Director Finance berkantor di Lausanne. Beliau pindah ke Moskow pada tahun 2003 sebagai Director Finance, Information Services and Administration di afiliasi PMI di Rusia. Kemudian pada tahun 2007, ditunjuk sebagai Vice President Finance Services, berkantor di Lausanne di Swiss. Paul Janelle diangkat sebagai Direktur Perseroan yang menangani keuangan dan pelayanan informasi Perseroan pada tahun 2009. Paul memiliki gelar Master dalam Business Administration dan Finance dari Webster University, gelar sarjana Business Administration, dan sarjana Science dari University of Ottawa di Kanada.

Shea Lih Goh
Direktur
Shea Lih Goh mengawali karirnya di PMI ketika bergabung dengan salah satu afiliasi PMI di Malaysia, Godfrey Phillips (Malaysia) Sdn Bhd, sebagai Management Trainee pada tahun 1993. Pada tahun 2001, beliau ditunjuk sebagai Marketing Manager sebelum pindah ke Hong Kong pada tahun 2002 untuk menjabat sebagai Manager Trade Marketing Philip Morris Asia. Sebelum menjabat sebagai Direktur yang menangani pemasaran di Sampoerna, Shea Lih Goh bekerja di Cina sebagai Director Marketing Philip Morris (2003-2006) dan di Taiwan sebagai General Manager Philip Morris (2006-2007). Shea Lih Goh meraih gelar sarjana di Monash University, Australia dan gelar Master dari University of Hull di Inggris.

Yos Adiguna Ginting
Direktur
Yos Adiguna Ginting memulai karier profesionalnya sebagai Manager, Strategic Alliance pada PT Indah Kiat Pulp and Paper, Tbk., setelah meraih gelar Doctor of Philosophy dalam bidang Theoritical Chemistry pada University of Tasmania di Australia, tahun 1997. Kariernya terus menanjak hingga mencapai jabatan Vice President, Trade Alliance, berkantor di Singapura. Yos Adiguna Ginting bergabung dengan Sampoerna sejak 2002, dan dengan segera memiliki peran yang kian meningkat tanggung jawabnya, termasuk menjadi Direktur yang menangani sumber daya manusia pada tahun 2006 untuk memimpin pengembangan strategi dan program dalam membangun bakat dan peluang bagi karyawan dari salah satu organisasi terbesar di Indonesia. Pada tahun 2008, ia diangkat sebagai Direktur yang menangani corporate affairs.

Wayan Mertasana Tantra
Direktur
Wayan Mertasana Tantra telah bergabung dengan Sampoerna selama lebih dari 20 tahun, diawali dengan menjadi Supervisor Sales pada salah satu afiliasi Sampoerna, yaitu PT Perusahaan Dagang dan Industri Panamas (PT Panamas) pada tahun 1987. Sebelum menjabat sebagai Direktur Perseroan yang menangani penjualan, beliau menjabat sebagai Direktur Penjualan PT Panamas. Wayan Mertasana Tantra memiliki gelar Magister Manajemen dari Universitas Airlangga di Surabaya.


C.    JOB DESKRIPSI

Pemasaran mengandung arti yang luas karena membahas mengenai masalah yang terdapat dalam perusahaan dan hubungannya dengan perdagangan barang dan jasa.
Menurut Philip kotler (2002:9): ”Pemasaran adalah suatu proses sosial yang didalam individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan kan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain.
Dalam menghadapi pasar sasarannya perusahaan memiliki seperangkat alat-alat pemasaran yang sangat berperan untuk memperoleh dampak maximum terhadap pasar. Alat-alat pemasaran tersebut terangkum dalam bauran pemasaran perusahaan. Secara definitif dikatakan oleh Philip Kotler (82:1997) bahwa:
Bauran pemasaran adalah seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk mencapai tujuan pemasarannya dalam pasar sasaran. Seperti yang diungkapkan oleh Kotler dan Amstrong (2001:18): “Bauran pemasaran adalah alat taktis dan terkontrol yang dipadukan oleh perusahaan untuk meghasilkan respon yang diinginkan pasar sasaran”.
Alat pemasaran tersebut dapat dikelompokan menjadi empat kelompok variabel yang dikenal sebagai 4P yaitu: produk (product), harga (price), distribusi (place), dan promosi (promotion). Keempat variabel tersebut dapat dikombinasikan dan saling berkaitan satu sama lain sehingga keputusan di satu bagian akan mempengaruhi tindakan dibagian lain.
Pada tahun 2009, Sampoerna memiliki pangsa pasar sebesar 29,1% di pasar rokok Indonesia, berdasarkan hasil AC Nielsen Retail Audit-Indonesia Expanded. Pada akhir 2009, jumlah karyawan PT. Hanjaya Mandala Sampoerna dan anak perusahaan mencapai sekitar 28.300 orang. PT. Hanjaya Mandala Sampoerna mengoperasikan enam pabrik rokok di Indonesia dan PT. Hanjaya Mandala Sampoerna menjual dan mendistribusikan rokok melalui 59 kantor penjualan di seluruh Indonesia.

Adapun manajemen dan strategi pemasaran PT. Hanjaya Mandala Sampoerna, adalah sebagai berikut:
a.       Market Driven Strategy
PT. Hanjaya Mandala Sampoerna untuk mengawali menjadikan Market Sebagai orientasi untuk membuat strategy harus diyakini bahwa customer merupakan raja sudah sepatutnya raja harus dipenuhi kebutuhannya dan keinginannya. Perlu adanya upaya yang menjaga hubungan dengan para customer untuk mempertahankan loyalitasnya, untuk dapat mempertahankan loyalitas customer harus ada observasi pada pasar, mengetahui apa yang diinginkan pasar, membuat sebuah inovasi produk baru yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pasar.
Market driven strategy secara garis besar adalah strategi yang diaplikasikan dengan cara memahami pasar, customers dan pesaing. Memahami pasar dapat diartikan bahwa produk yang kita berikan harus sesuai apa yang diinginkan pasar tersebut melalui. Memahami customer dapat diartikan selain membuat produk yang diinginkan pasar, sebagai businessman kita juga harus dapat memberikan nilai tambah (value) kepada customer,value yang diberikan harus lebih dari pengorbanan yang telah dilakukan. Setelah kita memahami pasar, memahami customer kita juga harus memahami pesaing, kita harus memahami kondisi pesaing, value apa yang diberikan pesaing kepada customer, teknologi apa yang pesaing pakai dan lain-lain.
PT. Hanjaya Mandala Sampoerna sudah berbasis berorientasikan market driven strategy sejak kemunculan produk A mild. Produk A mild merupakan salah satu implementasi dari market driven strategy dikarenakan produk A mild memiliki keunikan tersendiri dengan kandungan nikotin dan tar yang rendah. Produk A mild memilki keunikan tersendiri dilihat dari tema komunikasi pertamanya ‘Taste of the Future’ yang ingin mencirikan produk A mild memiliki perbedaan yang bukan rasa tetapi juga sebuah gaya hidup masa depan.

b.      Blue Ocean Strategy.
Blue Ocean Strategy yang digunakan PT. Hanjaya Mandala Sampoerna dalam bisnisnya dapat dilihat dengan diluncurkannya produk A Mild. Peluncuran ini cukup mengagetkan banyak pihak, terutama industri rokok saat itu. Hal ini disebabkan karena produk A-Mild merupakan produk yang unik, yang tidak tergolong dalam kategori manapun, dari tiga kategori besar rokok yang ada saat itu, yaitu sigaret keretek tangan (SKT), sigaret keretek mesin (SKM) reguler, dan sigaret putih mesin (SPM). Melalui A-Mild PT. Hanjaya Mandala Sampoerna, mengambil langkah berani untuk membuat sebuah kategori baru, yakni SKM mild. Sejak awal A-Mild memang sudah dirancang untuk menjadi produk yang tidak ada duanya di pasar domestik saat itu.
A-Mild merupakan rokok rendah nikotin (Low Tar Low Nicotine) pertama di Indonesia dengan komposisi tar/nikotin 14 mg/1.0 mg. Tidak hanya pada komposisi, Sampoerna juga melakukan perubahan pada kemasan A-Mild dengan mengurangi isi 20 batang menjadi 16 batang. Untuk inovasi produk A Mild dibutuhkan waktu 2 tahun untuk mempersiapkannya. Hal ini dikarenakan pada saat itu tidak ada produk yang dapat dijadikan acuan, termasuk di pasar internasional. Yang ada hanya berbagai survey dan riset yang melibatkan konsumen, termasuk di antaranya uji buta yang tidak hanya dilakukan sekali, tapi beberapa kali di beberapa kota.
Tahun 1994 A-Mild mengganti motto kampanye Taste of the future dan menggantinya dengan How low can you go. Dengan motto ini Sampoerna seolah-olah menantang konsumen untuk berpikir ulang mengenai jenis rokok yang mereka konsumsi. Cara ini terbukti efektif karena penjualan A-Mild naik tiga kali lipat, dari sebelumnya hanya 18 juta batang per bulan menjadi 54 juta batang per bulan. Dan seiring dengan berjalannya waktu, penjualan A-Mild pun terus naik. Tahun 1996, A-Mild sudah menembus penjualan sebanyak 9,8 miliar batang, atau 4,59% total penjualan rokok nasional. Di tahun 2005, rokok SKM mild sudah mengambil porsi 16,97% total rokok nasional. Hingga kini A-Mild telah menjadi salah satu produk unggulan dari Sampoerna dengan penguasaan pasar sekitar 50%.

c.       Memberi “Customer Value” Pada Produknya
Pada perusahaan Sampoerna, Customer value diimplementasikan dengan cara limited edition pada beberapa produk sampoerna, yaitu A-mild. Sampoerna memproduksi limited edition pada produk A-mild kemasan 12 batang, Dengan adanya A mild limited edition, Sampoerna memberikan nilai tambah dengan memberikan tampilan yang berbeda dari bungkus rokok biasa dan tercantum joke pada bungkus rokok limited edition tersebut seperti “kalo cinta itu buta, buat apa ada bikini”, joke tersebut sangat memberikan nilai tambah kepada para customer muda. Edisi terbatas (limited edition) dimaksudkan untuk menarik konsumen muda dan juga limit ededition A-mild diperuntukkan untuk meningkatkan penjualan A-mild kemasan 12 batang yang cukup rendah dibandingkan A mild kemasan 16 batang.

d.      Diversifikasi Produk
Diversifikasi adalah strategi penempatan dana investasi kita ke instrumen yang berbeda-beda.Alasan mengapa PT. Hanjaya Mandala Sampoerna. melakukan diversifikasi. Diversifikasi produk adalah upaya yang dilakukan perusahaan untuk memasarkan beberapa produk yang sejenis dengan produk yang sudah dipasarkan sebelumnya. Perusahaan melakukan diversifikasi produk ditujukan.
ü  Untuk membuat produk tahan lebih lama.
ü  Mengarah kepada produk siap konsumsi/digunakan.
ü  Memenuhi selera, kebutuhan dan harapan konsumen.
ü  Memperluas pasar, mempermudah transportasi, menyerap tenaga kerja.
ü  Memberi nilai tambah, pendapatan dan lain sebagainya.
Jadi PT. Hanjaya Mandala Sampoerna melakukan diversifikasi produk untuk menaikan penetrasi pasar atau membedakan produk satu dengan lainnya dan untuk mengembangkan perusahaan.

Cara Kami Beroperasi:
Kami adalah salah satu perusahaan rokok terkemuka di Indonesia dengan fasilitas pabrikan dan kantor penjualan di berbagai daerah di Indonesia. Di mana pun kami melakukan proses manufaktur, kami selalu menerapkan standar tertinggi untuk memastikan kualitas prima yang diharapkan para perokok merek kami. Operasional kami sehari-hari tidak hanya meliputi produksi rokok, tetapi juga mencakup cara kami berbisnis dan berinteraksi dengan dunia di luar kantor kami, baik secara lokal ataupun global. Di setiap negara tempat produk kami dijual, kami dipandu oleh prinsip dasar yang sama. Salah satu tujuan utama kami adalah menjadi perusahaan yang bertanggung jawab secara sosial. Karena itulah kami menganggap sangat serius kinerja sosial kami:
o   Kami mengomunikasikan dampak negatif merokok terhadap kesehatan.
o   Kami mendukung kerangka regulasi rokok yang menyeluruh dan memperhatikan tujuan kesehatan masyarakat, ketenagakerjaan, pendapatan negara dan prediktabilitas industri.
o   Kami mendukung pelaksanaan dan pemberlakuan tegas ketentuan yang mengatur usia minimum pembelian produk tembakau.
o   Kami juga bekerjasama erat bersama pengecer dan mitra lain untuk menerapkan program pencegahan merokok di kalangan anak dan remaja.
o   Kami bekerja sama dengan pembuat kebijakan, lembaga penegak hukum, dan pihak pengecer untuk memerangi perdagangan ilegal rokok palsu dan selundupan.
o   Kami telah menerapkan kebijakan dan program untuk secara konsisten mengurangi dampak lingkungan, dengan mengurangi penggunaan sumber daya alam, mengurangi emisi gas rumah kaca, serta mengurangi produksi limbah.
o   Kami bekerja sama dengan petani dan pemasok untuk mengembangkan pertanian tembakau berkelanjutan.
o   Kami bekerja sama dengan pemasok, lembaga masyarakat, dan pemerintah untuk mengatasi masalah pekerja anak dan pelanggaran lainnya di pasar tenaga kerja yang terkait dengan rantai pasokan kami.
o   Kami berkontribusi untuk meningkatkan kehidupan masyarakat lokal melalui kegiatan sosial yang berkelanjutan, kegiatan suka rela dan dukungan terhadap berbagai lembaga nirlaba.


KESIMPULAN

Perusahaan sampoerna merupakan perusahaan rokok besar di Indonesia, dengan melakukan diversifikasi dengan berbagai merk dan produk, merupakan suatu langkah yang dijalankan oleh PT. sampoerna agar perusahaan mencapai income stabil karena akan kestabilan Product Life Cycle. PT sampoerna didirikan oleh Liem Seeng Tee dan istrinya Siem Tjiang Nio, sampai diturunkan kepada anak-anaknya yaitu Aga Sampoerna, Putera Sampoerna dan putera sampoerna. Tahun 2005 perusahaan ini diakuisisi oleh Philip Morris, sejumlah 40 % dari saham sampoerna dibeli oleh Philip Morris .Philip Morris adalah produsen rokok asal Amerika Serikat dengan keahlian pada produk rokok putih seperti Marlboro, Virginia Slims, dan Benson & Hedges.
PT HM Sampoerna Tbk. Memiliki tanggung jawab sosial yang tinggi pada sekitar. Hal ini tunjukkan dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan ini seperti penanggulangan bencana dengan membentuk Tim Sampoerna Rescue (SAR), kemudian dalam bidang pendidikan perusahaan ini mendirikan sekolah bisnis yaitu Sampoerna School of Business dan Akademi Putera Sampoerna Foundation yang bertujuan untuk peningkatan pendidikan nasional di Indonesia. Selain itu sampoerna juga melakukan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dengan mendirikan Pusat Pelatihan Kewirausahaan Sampoerna (PPKSampoerna) dan dalam bidang lingkungan sampoerna memberi dukungan terhadap Program Pelestarian Mangrove di Surabaya dan penanaman kembali hutan di Pasuruan dan Lombok untuk mewujudkan lingkungan yang berkelanjutan
PT Sampoerna menjadikan Market Sebagai Orientasi Untuk Membuat Strategy harus diyakini bahwa customer merupakan raja sudah sepatutnya raja harus dipenuhi kebutuhannya dan keinginannya. Selain itu perusahaan ini melakukan differensiasi produk terhadap produk lain dengan diluncurkannya produk A-Mild. Peluncuran ini cukup mengagetkan banyak pihak, terutama industri rokok saat itu. A-Mild merupakan rokok rendah nikotin (Low Tar Low Nicotine) pertama di Indonesia dengan komposisi 
tar/nikotin 14 mg/1.0 mg. dan juga berbagai jenis merk dikeluarkan oleh Perusahaan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar