A.
LATAR
BELAKANG
PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. (“Sampoerna”) merupakan
salah satu produsen rokok terkemuka di Indonesia. Kami memproduksi sejumlah
merek rokok kretek yang dikenal luas, seperti Sampoerna Kretek
(sebelumnya disebut Sampoerna A Hijau), A Mild, serta “Raja
Kretek” yang legendaris Dji Sam Soe. Kami adalah afiliasi dari PT Philip
Morris Indonesia dan bagian dari Philip Morris International, produsen rokok
terkemuka di dunia. Misi kami adalah menawarkan pengalaman merokok terbaik
kepada perokok dewasa di Indonesia. Hal ini kami lakukan dengan senantiasa
mencari tahu keinginan konsumen, dan memberikan produk yang dapat memenuhi
harapan mereka. Kami bangga atas reputasi yang kami raih dalam hal kualitas,
inovasi dan keunggulan.
Pada tahun 2009, Sampoerna memiliki pangsa pasar sebesar
29,1% di pasar rokok Indonesia, berdasarkan hasil AC Nielsen Retail
Audit-Indonesia Expanded. Pada akhir 2009, jumlah karyawan Sampoerna dan
anak perusahaan mencapai sekitar 28.300 orang. Sampoerna mengoperasikan enam
pabrik rokok di Indonesia dan Sampoerna menjual dan mendistribusikan rokok
melalui 59 kantor penjualan di seluruh Indonesia.
Visi PT HM Sampoerna Tbk. ("Sampoerna")
terkandung dalam “Falsafah Tiga Tangan”. Falsafah tersebut mengambil gambaran
mengenai lingkungan usaha dan peranan Sampoerna di dalamnya. Masing-masing dari
ketiga ”Tangan”, yang mewakili perokok dewasa, karyawan dan mitra bisnis, serta
masyarakat luas, merupakan pihak yang harus dirangkul oleh Sampoerna untuk
meraih visi menjadi perusahaan paling terkemuka di Indonesia.
Kami juga tetap teguh menjalankan program tata kelola
perusahaan yang kuat dan ditujukan untuk melindungi seluruh pemangku
kepentingan Sampoerna dengan baik dan efektif. Komitmen tersebut kami wujudkan
dengan menumbuhkan dan menjaga standar kepatuhan, perilaku bertanggung jawab
dan integritas yang tertinggi di seluruh lapisan organisasi Sampoerna.
Sampoerna menetapkan standar kepatuhan dan integritas yang
sangat tinggi dalam menjalankan usaha. Aturan berperilaku (code of conduct)
yang diterapkan pada seluruh afiliasi PMI, termasuk Sampoerna, dikomunikasikan
kepada karyawan Sampoerna pada seluruh tingkatan organisasi. Program pelatihan
diadakan secara berkala dan partisipasi karyawan dimonitor dengan ketat.
B.
SUSUNAN
DIREKSI & KOMISARIS
Dewan Komisaris
Matteo Lorenzo Pellegrini
Presiden Komisaris
Matteo Lorenzo Pellegrini bergabung dengan PMI pada tahun
1991. Beliau menjadi Business Development Manager di Italia, sebelum menjadi
Marketing Director pada tahun 1995. Beliau
kemudian ditunjuk sebagai Managing Director untuk empat afiliasi,
berpindah–pindah antara Portugal, Spanyol, Prancis, dan akhirnya kembali ke
Italia pada tahun 2001. Lalu beliau pindah ke Hong Kong pada tahun 2003 untuk
menangani bisnis PMI di kawasan Asia Pasifik, sebelum menangani Asia Barat
sejak tahun 2005. Sejak tahun 2007, wilayah tanggung jawab Matteo Lorenzo
Pellegrini meliputi Asia Timur dan Barat dengan menjabat sebagai President,
Asia. Selain memegang gelar sarjana business administration dari Universitas
Bocconi di Milan, beliau juga menyandang gelar Master dalam communication dan
marketing.
Douglas Walter Werth
Wakil Presiden Komisaris
Douglas Werth bergabung dengan PMI sebagai Controller
berbasis di Hong Kong pada tahun 2003. Beliau bertanggung jawab dalam bidang
pelaporan dan perencanaan keuangan untuk kawasan Asia Pasifik dan dalam
mengembangkan kemampuan keuangan di dalam organisasi. Sebelum bergabung dengan
PMI, beliau telah bekerja di Philip Morris USA dan menjabat berbagai posisi di
bidang accounting. Pada tahun 1995, beliau menjadi Director Financial Planning
and Analysis, kemudian menjadi Director Financial System Implementation pada
tahun 1997, dan Assistant Controller, Operations pada tahun 2001. Beliau
kemudian dipromosikan sebagai Controller pada tahun 2002 dan bertanggung jawab
mendukung kebijakan dan mengawasi keuangan untuk marketing dan sales di Philip
Morris USA. Beliau memulai karirnya di Pittston Coal Group di Virginia, AS, dan
menduduki berbagai posisi di bidang cost accounting hingga dipromosikan sebagai
Assistant to the Controller. Douglas Werth meraih gelar sarjana di bidang
commerce, business administration dan accounting dari Washington and Lee
University di Lexington, Virginia, Amerika Serikat.
Eunice Carol Hamilton
Komisaris
Eunice Carol Hamilton bergabung dengan PMI pada tahun 1990
sebagai Recruitment Executive. Lima tahun kemudian, beliau ditunjuk menjadi
Director Management & Organization Development, dengan basis di New York. Sebelum
pindah ke Hong Kong pada tahun 2001 untuk menjabat Vice President Human
Resources Asia Pacific Region, beliau menduduki jabatan Director Human
Resources untuk Republik Ceko & Slowakia. Beliau juga menjabat sebagai Vice
President Centers of Expertise: Source & Select; Develop & Counsel; and
Organization Design, berbasis di Lausanne, Swiss. Eunice Hamilton meraih gelar
Master of Arts dari University of Glasgow, Skotlandia pada tahun 1978, kemudian
mengambil diploma pascasarjana dalam bidang Human Resources dari London School
of Economics pada tahun 1979. Pada tahun 1985, beliau juga meraih diploma
Sastra Perancis dari University of Geneva, Swiss.
Phang Cheow Hock
Komisaris Independen
Phang Cheow Hock bekerja di Sampoerna selama 29 tahun.
Sebelumnya, beliau pernah mengabdikan diri lebih dari 20 tahun di Singapore
Police Force sebagai seorang senior officer. Beliau juga pernah menjabat
sebagai Shareholders’ Representative and Assistant to the CEO tahun 1978 –
1991, dan menjadi Chief Operating Officer tahun 1990 – 1999, dan bertanggung jawab
terhadap keseluruhan operasional dan manajemen. Phang Cheow Hock diangkat
sebagai Komisaris pada tahun 2000 setelah pensiun dari Perseroan.
Ekadharmajanto Kasih
Komisaris Independen
Sebelum bergabung dengan Sampoerna, Ekadharmajanto Kasih
telah berpengalaman selama 25 tahun di bidang financial control pada sector
manufacturing. Beliau bergabung dengan Sampoerna pada tahun 1990 dan memegang
posisi Financial Controller hingga diangkat sebagai Chief Financial Officer
pada tahun 1991 dan anggota Direksi pada tahun 1992, lalu menjadi anggota Dewan
Komisaris pada tahun 2001 setelah pensiun dari Perseroan. Ekadharmajanto Kasih
meraih gelar sarjana di bidang Ekonomi dari Universitas Indonesia pada tahun
1975. Beliau juga mengabdikan diri sebagai dosen di Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia.
Niken Rachmad
Komisaris
(efektif tanggal 1 Januari 2011)
Niken Rachmad bergabung di Sampoerna pada tahun 1998 sebagai
Head of Corporate Communications dan menjabat sebagai Director Communications
pada tahun 2006. Pada tahun 2009, beliau diangkat sebagai Advisor Corporate
Affairs, lalu ditetapkan sebagai anggota Dewan Komisaris pada RUPS Tahunan Perseroan
pada 18 Juni 2010. Sebelum bergabung dengan Sampoerna, Niken Rachmad telah
menjalani karier yang panjang dan mengesankan dalam bidang jurnalisme dan
hubungan masyarakat di Indonesia dan AS, termasuk penugasannya di Washington
DC, ketika beliau bekerja di Voice of America antara tahun 1982 dan 1986. Niken
Rachmad merintis divisi Hubungan Masyarakat pada Ogilvy & Mather Indonesia
dan memperkenalkan konsep Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) kepada
sejumlah klien utama. Niken Rachmad adalah lulusan Universitas Gadjah Mada dengan
gelar BSc pada tahun 1972.
Direksi
John Gledhill
Presiden Direktur
John Gledhill bergabung dengan PMI pada tahun 1983. Beliau
mengawali karirnya di PMI dalam bidang pemasaran dan manajemen di kawasan Timur
Tengah. Beliau kemudian pindah ke Eropa untuk memenuhi kebutuhan akan peran
senior yang terus meningkat dalam bidang penjualan, pemasaran dan manajemen di
kantor PMI di Slowakia, Polandia, dan di Pusat Operasional PMI di Lausanne,
Swiss. Pada tahun 1999 beliau diangkat sebagai Managing Director Philip Morris
Malaysia, kemudian memimpin operasi PMI di Korea dan Australia, masing-masing
pada tahun 2002 dan 2004. Pada tahun 2009, beliau diangkat menjadi Presiden
Direktur Sampoerna. John Gledhill memiliki gelar dalam bidang Bisnis dan
Pemasaran, dan lulus dari International Executive Programme INSEAD di Perancis
pada tahun 1999.
Paul Janelle
Direktur
Paul Janelle mulai bekerja di PMI sebagai Finance Trainee
pada tahun 1991 di Lausanne, Swiss. Pada 1997, beliau bergabung dengan
organisasi keuangan Philip Morris CR a.s., berkantor di Praha, Republik Ceko,
hingga menduduki jabatan Controller pada tahun 2000. Pada tahun 2001, beliau
dipromosikan menjadi Director Finance berkantor di Lausanne. Beliau pindah ke
Moskow pada tahun 2003 sebagai Director Finance, Information Services and
Administration di afiliasi PMI di Rusia. Kemudian pada tahun 2007, ditunjuk
sebagai Vice President Finance Services, berkantor di Lausanne di Swiss. Paul
Janelle diangkat sebagai Direktur Perseroan yang menangani keuangan dan
pelayanan informasi Perseroan pada tahun 2009. Paul memiliki gelar Master dalam
Business Administration dan Finance dari Webster University, gelar sarjana
Business Administration, dan sarjana Science dari University of Ottawa di
Kanada.
Shea Lih Goh
Direktur
Shea Lih Goh mengawali karirnya di PMI ketika bergabung
dengan salah satu afiliasi PMI di Malaysia, Godfrey Phillips (Malaysia) Sdn
Bhd, sebagai Management Trainee pada tahun 1993. Pada tahun 2001, beliau
ditunjuk sebagai Marketing Manager sebelum pindah ke Hong Kong pada tahun 2002
untuk menjabat sebagai Manager Trade Marketing Philip Morris Asia. Sebelum
menjabat sebagai Direktur yang menangani pemasaran di Sampoerna, Shea Lih Goh
bekerja di Cina sebagai Director Marketing Philip Morris (2003-2006) dan di
Taiwan sebagai General Manager Philip Morris (2006-2007). Shea Lih Goh
meraih gelar sarjana di Monash University, Australia dan gelar Master dari
University of Hull di Inggris.
Yos Adiguna Ginting
Direktur
Yos Adiguna Ginting memulai karier profesionalnya sebagai
Manager, Strategic Alliance pada PT Indah Kiat Pulp and Paper, Tbk., setelah
meraih gelar Doctor of Philosophy dalam bidang Theoritical Chemistry pada
University of Tasmania di Australia, tahun 1997. Kariernya terus menanjak
hingga mencapai jabatan Vice President, Trade Alliance, berkantor di Singapura.
Yos Adiguna Ginting bergabung dengan Sampoerna sejak 2002, dan dengan segera
memiliki peran yang kian meningkat tanggung jawabnya, termasuk menjadi Direktur
yang menangani sumber daya manusia pada tahun 2006 untuk memimpin pengembangan
strategi dan program dalam membangun bakat dan peluang bagi karyawan dari salah
satu organisasi terbesar di Indonesia. Pada tahun 2008, ia diangkat sebagai
Direktur yang menangani corporate affairs.
Wayan Mertasana Tantra
Direktur
Wayan Mertasana Tantra telah bergabung dengan Sampoerna
selama lebih dari 20 tahun, diawali dengan menjadi Supervisor Sales pada salah
satu afiliasi Sampoerna, yaitu PT Perusahaan Dagang dan Industri Panamas (PT
Panamas) pada tahun 1987. Sebelum menjabat sebagai Direktur Perseroan yang
menangani penjualan, beliau menjabat sebagai Direktur Penjualan PT Panamas. Wayan
Mertasana Tantra memiliki gelar Magister Manajemen dari Universitas Airlangga
di Surabaya.
C.
JOB
DESKRIPSI
Pemasaran mengandung
arti yang luas karena membahas mengenai masalah yang terdapat dalam perusahaan
dan hubungannya dengan perdagangan barang dan jasa.
Menurut Philip kotler (2002:9): ”Pemasaran adalah suatu proses sosial yang didalam individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan kan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain.
Menurut Philip kotler (2002:9): ”Pemasaran adalah suatu proses sosial yang didalam individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan kan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain.
Dalam menghadapi pasar
sasarannya perusahaan memiliki seperangkat alat-alat pemasaran yang sangat
berperan untuk memperoleh dampak maximum terhadap pasar. Alat-alat pemasaran
tersebut terangkum dalam bauran pemasaran perusahaan. Secara definitif
dikatakan oleh Philip Kotler (82:1997) bahwa:
Bauran pemasaran adalah seperangkat
alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk mencapai tujuan pemasarannya
dalam pasar sasaran. Seperti yang diungkapkan oleh Kotler dan Amstrong
(2001:18): “Bauran pemasaran adalah alat taktis dan terkontrol yang dipadukan
oleh perusahaan untuk meghasilkan respon yang diinginkan pasar sasaran”.
Alat pemasaran tersebut dapat dikelompokan menjadi empat kelompok variabel yang dikenal sebagai 4P yaitu: produk (product), harga (price), distribusi (place), dan promosi (promotion). Keempat variabel tersebut dapat dikombinasikan dan saling berkaitan satu sama lain sehingga keputusan di satu bagian akan mempengaruhi tindakan dibagian lain.
Alat pemasaran tersebut dapat dikelompokan menjadi empat kelompok variabel yang dikenal sebagai 4P yaitu: produk (product), harga (price), distribusi (place), dan promosi (promotion). Keempat variabel tersebut dapat dikombinasikan dan saling berkaitan satu sama lain sehingga keputusan di satu bagian akan mempengaruhi tindakan dibagian lain.
Pada tahun 2009, Sampoerna memiliki pangsa pasar sebesar
29,1% di pasar rokok Indonesia, berdasarkan hasil AC Nielsen Retail
Audit-Indonesia Expanded. Pada akhir 2009, jumlah karyawan PT. Hanjaya Mandala
Sampoerna dan anak perusahaan mencapai sekitar 28.300 orang. PT. Hanjaya
Mandala Sampoerna mengoperasikan enam pabrik rokok di Indonesia dan PT. Hanjaya
Mandala Sampoerna menjual dan mendistribusikan rokok melalui 59 kantor
penjualan di seluruh Indonesia.
Adapun manajemen dan strategi pemasaran PT. Hanjaya Mandala
Sampoerna, adalah sebagai berikut:
a. Market Driven Strategy
PT. Hanjaya Mandala Sampoerna untuk mengawali menjadikan
Market Sebagai orientasi untuk membuat strategy harus diyakini bahwa customer
merupakan raja sudah sepatutnya raja harus dipenuhi kebutuhannya dan
keinginannya. Perlu adanya upaya yang menjaga hubungan dengan para customer
untuk mempertahankan loyalitasnya, untuk dapat mempertahankan loyalitas
customer harus ada observasi pada pasar, mengetahui apa yang diinginkan pasar,
membuat sebuah inovasi produk baru yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan
pasar.
Market
driven strategy secara garis besar adalah strategi yang diaplikasikan dengan
cara memahami pasar, customers dan pesaing. Memahami pasar dapat diartikan
bahwa produk yang kita berikan harus sesuai apa yang diinginkan pasar tersebut
melalui. Memahami customer dapat diartikan selain membuat produk yang
diinginkan pasar, sebagai businessman kita juga harus dapat memberikan nilai
tambah (value) kepada customer,value yang diberikan harus lebih dari
pengorbanan yang telah dilakukan. Setelah kita memahami pasar, memahami
customer kita juga harus memahami pesaing, kita harus memahami kondisi pesaing,
value apa yang diberikan pesaing kepada customer, teknologi apa yang pesaing
pakai dan lain-lain.
PT. Hanjaya Mandala Sampoerna sudah berbasis berorientasikan
market driven strategy sejak kemunculan produk A mild. Produk A mild merupakan
salah satu implementasi dari market driven strategy dikarenakan produk A mild
memiliki keunikan tersendiri dengan kandungan nikotin dan tar yang rendah.
Produk A mild memilki keunikan tersendiri dilihat dari tema komunikasi
pertamanya ‘Taste of the Future’ yang ingin mencirikan produk A mild memiliki
perbedaan yang bukan rasa tetapi juga sebuah gaya hidup masa depan.
b. Blue Ocean Strategy.
Blue Ocean Strategy yang digunakan PT. Hanjaya Mandala
Sampoerna dalam bisnisnya dapat dilihat dengan diluncurkannya produk A Mild.
Peluncuran ini cukup mengagetkan banyak pihak, terutama industri rokok saat
itu. Hal ini disebabkan karena produk A-Mild merupakan produk yang unik, yang
tidak tergolong dalam kategori manapun, dari tiga kategori besar rokok yang ada
saat itu, yaitu sigaret keretek tangan (SKT), sigaret keretek mesin (SKM)
reguler, dan sigaret putih mesin (SPM). Melalui A-Mild PT. Hanjaya Mandala
Sampoerna, mengambil langkah berani untuk membuat sebuah kategori baru, yakni
SKM mild. Sejak awal A-Mild memang sudah dirancang untuk menjadi produk yang
tidak ada duanya di pasar domestik saat itu.
A-Mild merupakan rokok rendah nikotin (Low Tar Low Nicotine)
pertama di Indonesia dengan komposisi tar/nikotin 14 mg/1.0 mg. Tidak hanya
pada komposisi, Sampoerna juga melakukan perubahan pada kemasan A-Mild dengan
mengurangi isi 20 batang menjadi 16 batang. Untuk inovasi produk A Mild
dibutuhkan waktu 2 tahun untuk mempersiapkannya. Hal ini dikarenakan pada saat
itu tidak ada produk yang dapat dijadikan acuan, termasuk di pasar
internasional. Yang ada hanya berbagai survey dan riset yang melibatkan
konsumen, termasuk di antaranya uji buta yang tidak hanya dilakukan sekali,
tapi beberapa kali di beberapa kota.
Tahun 1994 A-Mild mengganti motto kampanye Taste of the
future dan menggantinya dengan How low can you go. Dengan motto ini Sampoerna
seolah-olah menantang konsumen untuk berpikir ulang mengenai jenis rokok yang
mereka konsumsi. Cara ini terbukti efektif karena penjualan A-Mild naik tiga
kali lipat, dari sebelumnya hanya 18 juta batang per bulan menjadi 54 juta
batang per bulan. Dan seiring dengan berjalannya waktu, penjualan A-Mild pun
terus naik. Tahun 1996, A-Mild sudah menembus penjualan sebanyak 9,8 miliar
batang, atau 4,59% total penjualan rokok nasional. Di tahun 2005, rokok SKM
mild sudah mengambil porsi 16,97% total rokok nasional. Hingga kini A-Mild
telah menjadi salah satu produk unggulan dari Sampoerna dengan penguasaan pasar
sekitar 50%.
c. Memberi “Customer Value” Pada
Produknya
Pada perusahaan Sampoerna, Customer value diimplementasikan
dengan cara limited edition pada beberapa produk sampoerna, yaitu A-mild.
Sampoerna memproduksi limited edition pada produk A-mild kemasan 12 batang,
Dengan adanya A mild limited edition, Sampoerna memberikan nilai tambah dengan
memberikan tampilan yang berbeda dari bungkus rokok biasa dan tercantum joke
pada bungkus rokok limited edition tersebut seperti “kalo cinta itu buta, buat
apa ada bikini”, joke tersebut sangat memberikan nilai tambah kepada para
customer muda. Edisi terbatas (limited edition) dimaksudkan untuk menarik
konsumen muda dan juga limit ededition A-mild diperuntukkan untuk meningkatkan
penjualan A-mild kemasan 12 batang yang cukup rendah dibandingkan A mild kemasan
16 batang.
d. Diversifikasi Produk
Diversifikasi adalah strategi penempatan dana investasi kita
ke instrumen yang berbeda-beda.Alasan mengapa PT. Hanjaya Mandala Sampoerna.
melakukan diversifikasi. Diversifikasi produk adalah upaya yang dilakukan
perusahaan untuk memasarkan beberapa produk yang sejenis dengan produk yang
sudah dipasarkan sebelumnya. Perusahaan melakukan diversifikasi produk
ditujukan.
ü Untuk membuat produk tahan lebih
lama.
ü Mengarah kepada produk siap
konsumsi/digunakan.
ü Memenuhi selera, kebutuhan dan
harapan konsumen.
ü Memperluas pasar, mempermudah
transportasi, menyerap tenaga kerja.
ü Memberi nilai tambah, pendapatan dan
lain sebagainya.
Jadi
PT. Hanjaya Mandala Sampoerna melakukan diversifikasi produk untuk menaikan
penetrasi pasar atau membedakan produk satu dengan lainnya dan untuk
mengembangkan perusahaan.
Cara Kami Beroperasi:
Kami
adalah salah satu perusahaan rokok terkemuka di Indonesia dengan fasilitas
pabrikan dan kantor penjualan di berbagai daerah di Indonesia. Di mana pun kami
melakukan proses manufaktur, kami selalu menerapkan standar tertinggi untuk
memastikan kualitas prima yang diharapkan para perokok merek kami. Operasional
kami sehari-hari tidak hanya meliputi produksi rokok, tetapi juga mencakup cara
kami berbisnis dan berinteraksi dengan dunia di luar kantor kami, baik secara
lokal ataupun global. Di setiap negara tempat produk kami dijual, kami dipandu
oleh prinsip dasar yang sama. Salah satu tujuan utama kami adalah menjadi
perusahaan yang bertanggung jawab secara sosial. Karena itulah kami menganggap
sangat serius kinerja sosial kami:
o
Kami
mengomunikasikan dampak negatif merokok terhadap kesehatan.
o
Kami
mendukung kerangka regulasi rokok yang menyeluruh dan memperhatikan tujuan
kesehatan masyarakat, ketenagakerjaan, pendapatan negara dan prediktabilitas
industri.
o
Kami
mendukung pelaksanaan dan pemberlakuan tegas ketentuan yang mengatur usia minimum
pembelian produk tembakau.
o
Kami
juga bekerjasama erat bersama pengecer dan mitra lain untuk menerapkan program
pencegahan merokok di kalangan anak dan remaja.
o
Kami
bekerja sama dengan pembuat kebijakan, lembaga penegak hukum, dan pihak
pengecer untuk memerangi perdagangan ilegal rokok palsu dan selundupan.
o
Kami
telah menerapkan kebijakan dan program untuk secara konsisten mengurangi dampak
lingkungan, dengan mengurangi penggunaan sumber daya alam, mengurangi emisi gas
rumah kaca, serta mengurangi produksi limbah.
o
Kami
bekerja sama dengan petani dan pemasok untuk mengembangkan pertanian tembakau
berkelanjutan.
o
Kami
bekerja sama dengan pemasok, lembaga masyarakat, dan pemerintah untuk mengatasi
masalah pekerja anak dan pelanggaran lainnya di pasar tenaga kerja yang terkait
dengan rantai pasokan kami.
o
Kami
berkontribusi untuk meningkatkan kehidupan masyarakat lokal melalui kegiatan
sosial yang berkelanjutan, kegiatan suka rela dan dukungan terhadap berbagai
lembaga nirlaba.
KESIMPULAN
PT HM Sampoerna Tbk. Memiliki tanggung jawab sosial yang tinggi pada sekitar. Hal ini tunjukkan dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan ini seperti penanggulangan bencana dengan membentuk Tim Sampoerna Rescue (SAR), kemudian dalam bidang pendidikan perusahaan ini mendirikan sekolah bisnis yaitu Sampoerna School of Business dan Akademi Putera Sampoerna Foundation yang bertujuan untuk peningkatan pendidikan nasional di Indonesia. Selain itu sampoerna juga melakukan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dengan mendirikan Pusat Pelatihan Kewirausahaan Sampoerna (PPKSampoerna) dan dalam bidang lingkungan sampoerna memberi dukungan terhadap Program Pelestarian Mangrove di Surabaya dan penanaman kembali hutan di Pasuruan dan Lombok untuk mewujudkan lingkungan yang berkelanjutan
PT Sampoerna menjadikan Market Sebagai Orientasi Untuk Membuat Strategy harus diyakini bahwa customer merupakan raja sudah sepatutnya raja harus dipenuhi kebutuhannya dan keinginannya. Selain itu perusahaan ini melakukan differensiasi produk terhadap produk lain dengan diluncurkannya produk A-Mild. Peluncuran ini cukup mengagetkan banyak pihak, terutama industri rokok saat itu. A-Mild merupakan rokok rendah nikotin (Low Tar Low Nicotine) pertama di Indonesia dengan komposisi tar/nikotin 14 mg/1.0 mg. dan juga berbagai jenis merk dikeluarkan oleh Perusahaan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar